PENYEBAB DAN PENANGANAN PENYAKIT HIV AIDS

Kamis, 17 April 2014

Upaya Pencegahan HIV Dengan Truvada PrEP

Infeksi HIV dan AIDS

Human immunodeficiency virus (HIV) penyebab infeksi yang saat ini belum ada obatnya. Virus ini mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan dari waktu ke waktu, dapat menghancurkannya sedemikian rupa dan berkembang menjadi acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Pada tahap ini, orang yang terinfeksi tidak dapat lagi melawan infeksi dan penyakit lainnya.

Penelitian selama beberapa dekade terakhir telah menghasilkan obat-obatan baru dan perawatan yang memungkinkan orang untuk hidup dengan HIV lebih lama dari sebelumnya, dan tanpa mengembangkan AIDS.

Transmisi dan insiden HIV

HIV ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui cairan tubuh. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), virus ini kebanyakan menyebar melalui hubungan seks tanpa kondom dan berbagi jarum obat di Amerika Serikat.

Data terbaru dari CDC menunjukkan bahwa kejadian infeksi HIV baru di Amerika Serikat pada tahun 2010 adalah sekitar 50.000. Meskipun jumlahnya stabil, instansi pemerintah seperti CDC berharap untuk sejumlah penderita tersebut dengan pengobatan baru dan pencegahan.

PrEP untuk pencegahan

Obat untuk mengobati HIV telah mengalami kemajuan. Namun, pencegahan masih merupakan faktor penting dalam mengurangi kejadian penyakit tersebut. Untuk itu, orang-orang yang berisiko tinggi mengembangkan virus didorong untuk menggunakan pre-exposure prophylaxis (PrEP).

PrEP melibatkan obat setiap hari untuk membantu mencegah penularan infeksi HIV. Pengobatan ini juga mencakup teknik mengurangi risiko lainnya, seperti pengobatan untuk pecandu narkoba atau pendidikan tentang praktik seks aman.

FDA menyetujui Truvada

The Food and Drug Administration (FDA) menyetujui Truvada, obat yang digunakan untuk PrEP, pada tahun 2012. FDA telah menyetujui Truvada sebagai pengobatan yang digunakan dalam kombinasi dengan obat lain untuk mengobati pasien dengan HIV.

Truvada harus diminum setiap hari sebagai obat profilaksis. FDA menyetujui obat sebagai tindakan pencegahan dengan ketentuan bahwa pasien juga harus berpartisipasi dalam pendidikan dan konseling untuk membantu mengurangi risiko infeksi.

Bukti dalam penelitian

FDA menyetujui penggunaan Truvada sebagai bagian dari program PrPP komprehensif karena penelitian menunjukkan bahwa hal itu dapat mengurangi tingkat infeksi. Satu studi tersebut dari CDC melihat penurunan yang signifikan dalam risiko infeksi di antara peserta.

Penelitian ini melibatkan 1.200 laki-laki dan perempuan yang aktif secara seksual. Para peneliti menemukan bahwa ada infeksi 63 persen lebih tinggi pada kelompok yang menggunakan plasebo dibandingkan dengan kelompok yang menerima Truvada setiap hari.

Truvada untuk pengguna narkoba

Studi lain dari CDC menunjukkan bahwa Truvada PrEP juga efektif dalam mencegah infeksi HIV di kalangan pengguna narkoba suntikan. Lebih dari 2.000 pengguna narkoba berpartisipasi dalam penelitian ini. Risiko infeksi pada mereka yang memakai Truvada berkurang sebesar 49 persen.

Beberapa peserta bahkan mengurangi risiko mereka terhadap infeksi HIV dengan jumlah yang lebih besar.

Biaya pencegahan

Situs www.npr.org melaporkan bahwa biaya untuk pembelian Truvada PrEP dapat mencapai $ 36 per hari. Perkiraan lain berkisar antara $ 8.000 hingga $ 14.000 per tahun. Meskipun biaya ini tinggi, namun biaya untuk mengobati pasien yang sudah terserang AIDS diperkirakan lebih dari $ 25.000 per tahun.

Kabar baiknya adalah bahwa biaya pengobatan sering mendapat bantuan dari lembaga kesehatan swasta dan publik. Ada juga program yang tersedia dari produsen dan kelompok-kelompok lain untuk membantu mengimbangi harga tinggi PrEP bagi mereka yang tidak memiliki asuransi kesehatan.

Efek samping

Menurut CDC, studi awal telah menunjukkan bahwa PrEP memiliki profil keamanan yang baik. Tidak ada masalah keamanan serius muncul pada orang yang telah menggunakan PrEP.

Kemungkinan efek samping dari Truvada termasuk sakit perut, sakit kepala, dan penurunan berat badan. Jika menggunakan Truvada dengan obat anti-HIV lainnya, mungkin akan mengalami gejala seperti masalah tidur, pusing, mual, atau depresi. Beberapa orang berhenti menggunakannya karena efek samping tersebut.

Komplikasi yang lebih serius termasuk masalah ginjal, penipisan tulang, perubahan lemak tubuh, dan peradangan.

Siapakah yang sebaiknya menggunakan Truvada PrEP?

Truvada PrEP dimaksudkan untuk digunakan oleh siapa saja yang beresiko tinggi terkena infeksi HIV. Ini termasuk orang-orang yang terlibat dalam hubungan seks tanpa kondom dengan beberapa pasangan dan pengguna narkoba suntikan yang berbagi jarum.

Setiap orang yang tidak terinfeksi dalam hubungan dengan seseorang yang memiliki HIV juga berisiko dan memenuhi syarat untuk menggunakan Truvada sebagai profilaksis.

Siapa yang tidak dapat menggunakan Truvada PrEP?

FDA menyatakan bahwa Truvada PrEP seharusnya hanya digunakan oleh orang-orang yang diketahui HIV-negatif. Siapa saja yang menggunakan program pencegahan harus diuji setiap tiga bulan.

Truvada tidak boleh digunakan oleh siapa saja dengan tulang atau masalah ginjal atau hepatitis B. Obat tersebut dapat memperburuk kondisi ini.

Menjatuhkan tingkat infeksi HIV
Instansi pemerintah di Amerika Serikat, seperti CDC dan FDA berharap bahwa pengenalan Truvada PrPP akan membantu untuk mengupayakan angka ini terus turun.

Referensi:
http://www.healthline.com/health-slideshow/hiv-prevention-truvada

Sejarah HIV/AIDS

Sejarah HIV/AIDS - Kasus pertama infeksi HIV pada manusia diidentifikasi pada tahun 1959. Namun pengalihan penyakit HIV dari hewan ke manusia kemungkinan terjadi beberapa dekade sebelumnya. Individu yang terinfeksi tinggal di Republik Demokratik Kongo. Dia tidak tahu (dan penelitian tidak bisa mengidentifikasi) bagaimana ia terinfeksi.

HIV di AS

Kasus pertama HIV di Amerika Serikat ditemukan pada tahun 1981. Pria homoseksual mulai meninggal akibat penyakit misterius, seperti infeksi pneumonia. Pada bulan Juni 1981, US Centers for Disease Control dan Pencegahan (CDC) pertama kali menjelaskan gejala penyakit ini tidak diketahui. Dalam waktu yang tidal lama, beberapa penyedia layanan kesehatan dari seluruh negera ini mulai melaporkan kasus serupa. Jumlah orang dengan penyakit ini meningkat. Begitu pula jumlah orang yang meninggal akibat penyakit tak dikenal.

American AIDS Clinic pertama

Pada bulan September 1982, CDC menggunakan istilah acquired immune deficiency syndrome (AIDS) untuk pertama kalinya saat menjelaskan penyakit misterius ini. Pada tahun yang sama, klinik AIDS pertama kali dibuka di San Francisco.

Sebuah Penemuan kecil

Pada tahun 1984, Dr Robert Gallo dan rekan-rekannya di National Cancer Institute menemukan apa yang menyebabkan AIDS. Gallo menemukan human immunodeficiency virus (HIV), yaitu virus yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap infeksi HIV. Infeksi tersebut mengakibatkan konsekuensi dari sistem kekebalan tubuh yang rusak (seperti pneumonia dan sarkoma Kaposi), yang paling sering berakibat fatal.

Kehilangan Wajah Terkenal

Pria terkemuka romantis Amerika pada 1950-an dan 60-an, Batu Hudson, meninggal dari komplikasi yang berhubungan dengan AIDS pada tahun 1985. Sebelum meninggal, dia menghendaki menyumbangkan dana $ 250.000 untuk membantu mendirikan American Foundation for AIDS Research (amfAR). Hingga saat ini, amfAR telah membantu dana penelitian dan pendidikan di seluruh dunia.

Pada tahun tersebut, US Food and Drug Administration (FDA) juga menyetujui tes darah komersial pertama, ELISA. ELISA tes memungkinkan rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain dengan cepat melakukan screening darah untuk penyakit ini.

Kondisii yang tragis

Setelah penyakit diidentifikasi, HIV dan AIDS dengan cepat menjadi epidemi di Amerika Serikat. Pada tahun 1994, AIDS adalah penyebab utama kematian di antara orang Amerika usia 25 hingga 44.

Antiretroviral Terapi (ART)

FDA menyetujui protease inhibitor pertama pada tahun 1995. Hal ini menjadi tanda dimemulainya era baru pengobatan yang kuat dengan respon yang disebut terapi antiretroviral (ART). Pada tahun 1997, ART merupakan standar pengobatan untuk HIV. Segera, jumlah kematian yang disebabkan oleh AIDS mulai turun. Rencana Obat ini mampu mengurangi jumlah kematian terkait AIDS hampir setengah dari tahun sebelumnya dalam waktu satu tahun. Namun, sistem pengobatan ART memiliki beberapa pengkritik. Banyak yang khawatir rencana pengobatan terlalu agresif dan mungkin benar-benar membuat strain HIV menjadi kebal atau tahan.

Kemajuan dalam testing di rumah

FDA pertama kali menyetujui tes kit HIV di rumah pasien pada tahun 2002. Hal ini membuka kemungkinan bagi orang untuk menguji status mereka dalam privasi rumah mereka sendiri.

Pencegahan

HIV dan AIDS belum memiliki obat. Setelah seseorang terinfeksi dengan virus, mereka tidak dapat menyingkirkan virus tersebut. Mereka hanya bisa mengobatinya dengan memperlambat perkembangan penyakit.

Bagi orang-orang yang tidak terinfeksi, mungkin dapat mencegah infeksi tersebut. Pada 2013, CDC merilis sebuah studi yang menemukan bahwa dosis harian obat mungkin dapat menghentikan transfer HIV dari orang yang positif kepada orang negatif. Lihat upaya pencegahan HIV/AIDS pada artikel Infeksi HIV Akut.

Referensi:
http://www.healthline.com/health-slideshow/history-hiv

Senin, 14 April 2014

Infeksi Oportunistik HIV

HIV dan Sistem Imun

Ketika infeksi memasuki tubuh orang yang sehat, sel-sel darah putih yang disebut lymphocytes menanggapi dengan melawan infeksi. Limfosit ini termasuk sel B dan sel T. Ketika seseorang terserang human immunodeficiency virus (HIV), kondisi ini menyebabkan sel-sel T tertentu mati. Hal tersebut membuat tubuh lebih sulit untuk melawan infeksi baru.

Ketika infeksi serius menyerang tubuh dan jumlah sel T menurun sampai tingkat tertentu, seseorang dapat didiagnosis mengalami acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).

Apakah Infeksi Oportunistik?

Orang dengan HIV harus benar-benar waspada terhadap infeksi oportunistik (IO). Infeksi ini disebut oportunis karena mereka memanfaatkan sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah akibat serangan HIV.

Infeksi yang terjadi lebih sering dan menyebabkan masalah kesehatan serius pada pasien HIV dianggap infeksi oportunistik. Mencegah timbulnya infeksi oportunistik dapat dilakukan dengan melibatkan barbagai upaya medis, diantaranya adalah kombinasi obat-obatan dan perawatan.

Ada dua jenis infeksi oportunistik, yaitu infeksi oportunistik sistemik mempengaruhi seluruh tubuh, dan infeksi oportunistik lokal cenderung hanya mempengaruhi bagian tubuh tertentu.

Mengetahui Jumlah CD4

Sel T atau jumlah CD4 menentukan risiko penderita HIV terhadap infeksi oportunistik tertentu. Semakin rendah jumlah CD4, risiko infeksi oportunistik lebih besar dan serius.

Menurut AIDS.gov, jumlah CD4 yang sehat atau normal adalah antara 500 dan 1.000 sel/mm3. Jika level itu turun menjadi 350 sel/mm3, pasien harus segera berkonsultasi dengan dokter Anda tentang rencana perawatan untuk meningkatkan jumlah CD4. Diagnosis AIDS dapat dilakukan apabila jumlah CD4 200 sel/mm3 atau lebih rendah.

Candidiasis (Thrush)

Candidiasis, juga dikenal sebagai thrush, adalah infeksi oportunistik yang cukup umum, biasanya terlihat pada pasien HIV dengan jumlah CD4 antara 200 dan 500 sel/mm3.

Gejala yang paling jelas adalah bintik-bintik putih atau patch pada lidah atau tenggorokan. Sariawan bisa diobati dengan obat antijamur. Kebersihan mulut dan penggunaan obat kumur chlorhexidine dapat membantu mencegah infeksi ini.

Infeksi Pneumocystis

Infeksi Pneumocystis adalah beberapa infeksi oportunistik yang paling serius bagi orang dengan HIV. Menurut AIDS.gov, pneumocystis pneumonia (PCP) adalah penyebab utama kematian di antara pasien HIV. Kabar baiknya adalah bahwa infeksi dapat diobati dengan antibiotik.

Gejalanya meliputi batuk, demam, dan kesulitan bernapas. Pengobatan harus dimulai lebih awal untuk memberikan pasien kemungkinan terbaik pemulihan. Obat pencegahan dapat diresepkan untuk orang yang berisiko tinggi terhadap infeksi PCP.

Cryptococcosis

Cryptococcus neoformans fungus adalah jamur yang biasanya ditemukan di dalam tanah. Jika terhirup, infeksi ini disebut kriptokokosis. Infeksi oportunistik ini terkadang masih terbatas pada paru-paru, tetapi dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh.

Jika otak terinfeksi, kondisi ini disebut meningitis kriptokokus. Pasien HIV dengan jumlah CD4 50 sel/mm3 dan 100 sel/mm3 sangat rentan terhadap kriptokokosis. Dengan jumlah CD4 sangat rendah, penderita menghadapi risiko yang lebih besar dari penyebaran infeksi.

Mycobaterium Aviam Complex (MAC)

Untuk orang dengan HIV dan jumlah CD4 kurang dari 50 sel/mm3, infeksi oportunistik mycobaterium aviam complex (MAC) merupakan risiko kesehatan yang sangat serius. MAC adalah bakteri yang ditemukan di banyak tempat. Infeksi oportunistik ini biasanya mempengaruhi paru-paru atau usus. Namun dalam kasus-kasus serius, dapat menginfeksi darah dan seluruh tubuh. Karena MAC dapat mematikan, pasien HIV berisiko terkena infeksi oportunistik ini dapat menggunakan obat khusus untuk mencegah infeksi.

Pencegahan

The Centers for Disease Control telah memasukkan lebih dari 20 jenis infeksi oportunistik sebagai "AIDS definisi". Hal itu berarti, jika seseorang dapat didiagnosis dengan AIDS jika ia memiliki HIV dan salah satu infeksi oportunistik yang ditunjuk.

Jika seseorang memiliki HIV, maka ia harus tahu risiko yang terkait dengan setiap infeksi oportunistik. Jumlah CD4 sebaiknya diperiksa secara teratur. Jika jumlahnya terlalu rendah, dokter mungkin akan memberikan resep obat yang harus diambil sebelum penderita sakit. Menggunakan obat untuk mencegah timbulnya penyakit oportunistik ini disebut profilaksis.

Referensi:
http://www.healthline.com/health-slideshow/hiv-opportunistic-infections

Jumat, 04 April 2014

Penyebab HIV AIDS

Penyebab HIV AIDS - HIV merupakan penyakit menular, terutama disebabkan oleh kontak seksual. Tetapi penyakit ini juga dapat dikontrak dalam tiga cara. Pada dasarnya, penularan penyakit HIV membutuhkan pertukaran cairan tubuh, seperti air mani, darah, air susu ibu, atau sekresi vagina.

Transmisi seksual

Sebagian besar kasus HIV diperoleh melalui hubungan seksual tanpa kondom. Sekresi seksual dari orang yang terinfeksi dapat menularkan virus dalam kontak baik secara genital, oral, atau dubur dan mempengaruhi pasangan yang tidak terinfeksi. Penularan paling sering terjadi pada kasus heteroseksual dan homoseksual, dengan risiko yang lebih tinggi untuk pasangan reseptif. Hubungan anal memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap penularan HIV daripada hubungan seks vagina.

Darah

Kasus yang paling umum penularan penyakit HIV melalui darah terjadi terutama di antara pengguna narkoba suntikan, penderita hemofilia, dan penerima transfusi darah. Berbagi jarum suntik atau menggunakan kembali jarum setelah terkontaminasi dengan darah orang yang terinfeksi, dapat menimbulkan risiko sangat besar untuk tertular virus HIV. Menerima tato dengan jarum yang terinfeksi juga dapat memaparkan serangan virus bagi orang yang bersangkutan. Di daerah dengan kebersihan medis standar, risiko tertular HIV melalui darah jauh lebih tinggi daripada di lingkungan medis lebih steril.

Transmisi perinatal

Penularan penyakit dari ibu ke anak bisa terjadi pada setiap saat selama proses melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada janin dalam rahim, melalui pertukaran cairan tubuh melalui akord pusar. Hal ini juga dapat terjadi selama persalinan, melalui pertukaran cairan tubuh. Ini bisa dihindari melalui kelahiran melalui operasi caesar, sehingga cairan yang disimpan terpisah. Terakhir, penularan dapat terjadi selama menyusui karena anak mengkonsumsi ASI ibu yang terinfeksi virus HIV.

Referensi:
http://www.healthline.com/health/hiv-aids/causes?ref=tc

Bagaimana HIV Mempengaruhi Tubuh?

HIV adalah virus unik terutama dalam kemampuannya untuk mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Artikel berikut akan menyajikan informasi singkat mengenai bagaimana penyakit HIV berkembang dan membuat pasien rentan terhadap komplikasi serius.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi sel-sel sistem kekebalan tubuh. Secara khusus, serangan HIV dan menghancurkan limfosit T helper, atau T-sel, yang sangat penting untuk sistem kekebalan tubuh dan respon imun. Sel-sel ini juga disebut limfosit CD4-positif karena HIV menggunakan protein CD4, yang hadir pada permukaan sel, untuk menempelkan dirinya sendiri dan membongkar jalan ke dalam sel. Setiap hari, tubuh memproduksi jutaan CD4 + T-sel untuk membantu menjaga kekebalan dan melawan serangan virus maupun kuman. Setelah HIV ada dalam tubuh, virus ini mampu menyalin dirinya sendiri berulang-ulang, meningkatkan kemampuannya untuk membunuh CD4 + T-sel. Dalam waktu singkat, sel yang terinfeksi akan melebihi T-sel yang sehat.

Semakin rendah CD4 + jumlah T-sel seseorang, semakin rentan orang tersebut terhadap virus dan infeksi. Pada tahap awal infeksi, penurunan jumlah T-sel terjadi secara bertahap. Beberapa bulan dan tahun-tahun pertama setelah seseorang terinfeksi, jumlah T-sel dapat bertahan mendekati normal atau hanya sedikit terjadi penurunan.

Empat Tahap Serangan HIV


Infeksi HIV biasanya dibagi menjadi empat tahap: infeksi akut primer, infeksi laten klinis, gejala infeksi HIV, dan perkembangan dari HIV menjadi AIDS.

Infeksi primer akut


Dalam beberapa minggu pertama setelah tertular HIV, 70 persen orang akan mengalami gejala seperti flu-demam, sakit kepala, sakit perut, dan nyeri otot adalah salah satu tanda-tanda awal yang paling umum dari infeksi HIV. Diagnosis positif memungkinkan untuk dilakukan pada tahap ini, tetapi banyak yang tidak akan mengaitkan gejala mereka dengan infeksi HIV, karena tidak menyadari bahwa dirinya telah terjangkit virus.

Selama infeksi primer akut, sel yang terinfeksi HIV beredar di seluruh sistem darah. Tubuh akan merespon dengan memproduksi antibodi HIV dan limfosit sitotoksik (T-sel yang mencari dan menghancurkan virus atau bakteri). Dua sampai empat minggu setelah infeksi, sistem kekebalan tubuh akan meningkatkan serangan terhadap HIV dengan antibodi dan T-sel. Tingkat HIV dalam darah akan sangat berkurang, dan jumlah CD4 T-sel sedikit membaik.

Infeksi laten klinis

Tahap kedua dari infeksi HIV memiliki durasi rata-rata 10 tahun. Selama fase ini, orang yang terinfeksi HIV hidup hampir normal, hidup tanpa gejala karena infeksi kemungkinan besar tidak menyebabkan gejala tambahan atau komplikasi. Tingkat sirkulasi HIV dalam darah menjadi sangat rendah dan mungkin hampir tidak terdeteksi. Namun, orang dengan HIV tetap menular dan dapat menularkan HIV kepada orang lain selama fase ini.

Meskipun hadir dalam jumlah yang sangat kecil dalam darah, HIV sangat aktif dalam sistem getah bening tubuh Anda. Dokter mungkin menyarankan pasien memulai menjalankan terapi obat segera setelah didiagnosis. Penderita infeksi HIV mungkin mengalami efek samping sebagai akibat dari obat ini selama dalam fase perawatan. Jika pasien memilih untuk tidak menggunakan obat-obatan, dokter mungkin akan memantau pasien bersangkutan secara teratur selama periode latency untuk memantau perkembangan virus.

Infeksi HIV simtomatik

Seiring waktu, HIV menghancurkan sistem kekebalan tubuh seseorang. Setelah viral load seseorang (pengukuran seberapa banyak sel dalam darah terinfeksi HIV) mulai naik ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tinggi, ini merupakan indikasi bahwa sistem kekebalan tubuh mulai memburuk; penyakit ini mencapai tahap yang lebih membahayakan. Banyak pasien akan memulai perawatan dengan obat antiretroviral pada tahap ini.

Jika terapi obat anti-HIV tidak bekerja, atau jika seseorang memilih untuk tidak melakukan perawatan, sistem kekebalan tubuh akan memburuk lebih cepat. Awalnya, orang yang terinfeksi HIV akan mengalami gejala ringan-demam, sakit kepala, dan kelelahan-tetapi sebagai penyakit berlangsung, sistem kekebalan tubuh akan melemah, dan gejala akan menjadi lebih buruk. Gejala selanjutnya pada tahap infeksi HIV ini adalah menurunnya berat badan dengan cepat, kehilangan memori, demam berulang, dan diare yang berlangsung lebih dari seminggu. Selama waktu ini, infeksi oportunistik menjadi semakin sering. Infeksi ini tidak akan menjadi masalah pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang normal, tapi bagi orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, penyakit ini dapat menjadi sangat merepotkan. Infeksi diobati, tetapi perkembangan penyakit tidak dapat dihentikan.

Perkembangan dari HIV menjadi AIDS

Pada tahap akhir dari infeksi HIV, sistem kekebalan tubuh terancam. Infeksi menjadi semakin buruk. Jumlah CD4 T-sel turun drastis, dan peningkatan viral load secara signifikan. Ketika CD4 + T-sel seseorang turun di bawah 200 sel per milimeter kubik darah dan ia didiagnosis dengan kondisi tahap-4-terkait HIV (seperti tuberkulosis, kanker, dan pneumonia), HIV telah berkembang ke Acquired Immunodeficiency syndrome (AIDS). Kriteria untuk mendiagnosa AIDS berbeda dari satu negara dengan negara lain. Kriteria tersebut berlaku sebagai standar di Amerika Serikat. Setelah HIV berkembang menjadi AIDS, seseorang lebih mungkin meninggal. Beberapa pasien akan hidup hanya beberapa bulan setelah mencapai tahap keempat serangan HIV, tetapi pada orang-orang tertentu dapat hidup bertahun-tahun. Berkat kemajuan baru dalam pengobatan, harapan hidup bagi penderita AIDS berkembang semakin baik.

Referensi:
http://www.healthline.com/health/hiv-aids/how-hiv-affects-the-body?ref=tc

Minggu, 30 Maret 2014

Tentang HIV/AIDS

Human immunodeficiency virus (HIV) ditularkan melalui kontak seksual, pertukaran darah, jarum suntik intravena yang digunakan secara bergantian, atau dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Virus ini berasal di primata yang kemudian menular pada manusia. Kasus pertama ditemukan di Afrika pada tahun 1950 dan 1960-an, dan penyakit ini menyebar dengan cepat di seluruh dunia, yang mempengaruhi lebih dari 36 juta orang pada tahun 2001.

HIV menyebabkan kegagalan progresif dari sistem kekebalan tubuh, membuat tubuh jauh lebih rentan terhadap infeksi dan kanker. Saat ini sudah tersedia obat antiretroviral yang dapat mengurangi mortalitas dan morbiditas infeksi HIV, tetapi masih belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi HIV. Obat antivirus ini hanya membatasi replikasi virus.

Karena HIV sangat merusak sistem kekebalan tubuh, kebanyakan pasien meninggal bukan dari HIV itu sendiri, tetapi dari infeksi oportunistik atau kanker, seperti tuberkulosis dan pneumonia. Lamanya waktu infeksi HIV untuk berkembang menjadi AIDS bervariasi tetapi, jika tidak diobati, HIV akan bertransisi ke AIDS dalam waktu 10 tahun atau lebih cepat setelah infeksi.

Asal HIV/AIDS

Kebanyakan ahli setuju bahwa HIV merupakan keturunan dari simian immunodeficiency virus (SIV), yang awalnya hanya menyerang primata, tetapi setelah bermutasi, virus tersebut bisa menular ke manusia, hal ini mungkin disebabkan manusia membunuh monyet-monyet tersebut dan memakan daging mereka. Begitu diakuisisi oleh manusia, penyakit itu secara teratur ditularkan dari orang ke orang, yang kemudian dikenal sebagai human virus. HIV menular ke seluruh dunia saat perjalanan dari Afrika ke wilayah negara lain di dunia dapat diakses. Sindrom ini akhirnya dianggap sebagai virus klinis pada tahun 1981 dan diberi nama pada tahun 1986.

Jenis HIV

Ada dua jenis HIV: Tipe 1, yang dapat dipecah menjadi beberapa sub-kelompok berdasarkan lokasi, dan tipe 2, yang tampaknya sulit ditransmisikan. Keduanya ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh.

HIV-1: HIV-1 adalah bentuk yang lebih dominan dari virus dan dibagi menjadi beberapa subkelompok. Strain yang dominan, kelompok M, ditemukan pada simpanse dan monyet yang hidup di Afrika Barat dan dianggap sebagai organisme yang paling bertanggung jawab atas pandemi AIDS.

HIV-2: HIV-2 terutama ditemukan di Afrika Barat dan tingkat penularannya lebih rendah dibanding HIV-1, tapi tipe ini berpotensi menyebabkan AIDS lebih sering daripada tipe 1. Periode antara infeksi awal dan penyakit yang lebih lama pada kasus HIV-2.

http://www.healthline.com/health/hiv-aids?ref=global

Rabu, 12 Maret 2014

Infeksi HIV Akut

Infeksi HIV akut, juga dikenal sebagai infeksi HIV primer atau sindrom retroviral akut, adalah suatu kondisi yang terjadi dalam dua sampai empat minggu setelah seseorang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV). Ini adalah tahap utama infeksi dan berlangsung sampai tubuh menciptakan antibodi terhadap virus HIV. Selama tahap infeksi, virus melakukan duplikasi dengan kecepatan tinggi. Tidak seperti virus lainnya, sistem kekebalan tubuh tidak mampu untuk melawan HIV, dan infeksi dapat hidup dalam sel untuk jangka waktu lama. Serangan virus akan menghancurkan sel-sel kekebalan tubuh, sehingga sistem kekebalan tubuh tidak mampu melawan penyakit maupun infeksi lainnya. Ketika hal ini terjadi, infeksi HIV dapat mengarah pada pengembangan sindrom defisiensi imun, atau AIDS.

HIV akut sangat menular. Namun, kebanyakan orang dengan HIV akut tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi. Hal ini mungkin disebabkan oleh fakta bahwa sebagian besar orang tidak melakukan tes HIV secara teratur, atau karena tes antibodi HIV standar tidak dapat mendeteksi tahap infeksi.

Apa Penyebab Infeksi HIV akut?

Infeksi akut HIV terjadi dalam waktu dua sampai empat minggu setelah paparan awal virus. HIV menular melalui:

- Transfusi darah yang terkontaminasi
- Kontak dengan darah atau cairan yang terkontaminasi
- Jarum suntik atau jarum yang terkontaminasi
- Kontak s3ksu@l oral, anal, atau vaginal
- Lewat virus dari ibu ke janin selama kehamilan
- ASI

HIV tidak menyebar melalui kontak biasa, seperti memeluk, memegang tangan, atau berbagi peralatan makanan dengan orang yang terinfeksi.

Siapa yang memiliki resiko tinggi terhadap infeksi HIV akut?

Infeksi HIV akut tidak selalu berkembang menjadi infeksi HIV bergejala atau AIDS, terkadang infeksi virus tidak berkembang selama bertahun-tahun atau beberapa dekade. Pada sebagian pendertia mungkin tidak berkembang kearah penyakit HIV lanjut atau AIDS.

Virus HIV dapat menyerang manusia dari segala usia, ras atau orientasi s3ksu@l. Namun, ada kelompok-kelompok tertentu yang mungkin berada pada risiko lebih tinggi terserang HIV, antara lain:

- Pengguna narkoba suntikan
- Laki-laki yang berhubungan s3ks dengan laki-laki
- Afrika Amerika

Gejala infeksi HIV akut?

Kebanyakan orang dengan gejala HIV akut tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi oleh virus HIV. Hal ini karena gejala HIV akut mirip dengan flu dan penyakit virus lain, seperti ruam, nafsu makan menurun, demam, sakit kepala, kelelahan, tidak enak badan, sakit tenggorokan, berkeringat di malam hari, bisul yang muncul di mulut, sakit kerongkongan, alat kelamin, pembengkakan kelenjar getah bening, hingga nyeri otot.

The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan bahwa 20 persen dari orang yang hidup dengan HIV tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Untuk mengetahui apakah Anda memiliki HIV atau tidak, harus dilakukan uji HIV.

Diagnosis Infeksi HIV akut

Jika dicurigai mengalami infeksi HIV akut, dokter akan melakukan serangkaian tes untuk mencari virus. Tes skrining HIV standar tidak akan selalu mendeteksi HIV akut. Banyak tes skrining HIV mencari antibodi terhadap HIV daripada virus itu sendiri. Hal ini dapat memakan waktu beberapa bulan setelah infeksi awal untuk membentuk antibodi.

Beberapa tes yang mungkin mampu mendeteksi tanda-tanda infeksi HIV akut antara lain:
- HIV RNA viral load
- Tes darah antigen p24
- Jumlah CD4
- Diferensial darah
- HIV ELISA dan tes Western blot mungkin tidak mampu mendeteksi HIV akut

Mengobati infeksi HIV akut

Perawatan tepat sangat penting bagi individu yang terinfeksi HIV. Jika seseorang telah didiagnosa dengan HIV, maka sangat penting untuk belajar tentang virus.

Dokter dan ilmuwan terus berdebat apakah pengobatan agresif harus digunakan untuk semua orang dengan HIV. Pengobatan dini mampu meminimalkan efek virus pada sistem tubuh. Namun, obat HIV dapat memiliki efek samping serius bila digunakan untuk pengobatan jangka panjang. Penderita harus berkonsultasi dengan dokter untuk membahas semua pilihan pengobatan dan potensi efek samping untuk menentukan pengobatan yang tepat.

Selain pengobatan medis, dokter mungkin juga merekomendasikan perilaku hidup sehat, seperti:
- Diet seimbang untuk membantu memperkuat sistem kekebalan.
- S3ks aman untuk menghindari penularan virus kepada orang lain dan untuk mengurangi risiko PMS.
- Menghindari stres, karena stres mampu melemahkan sistem kekebalan tubuh.
- Menghindari paparan penyakit menular.
- Berolahraga secara teratur.
- Menghindari situasi yang dapat menyebabkan depresi.
- Tetap aktif dan mempertahankan hobi.

Komplikasi
Seiring waktu, HIV dapat menekan sistem kekebalan tubuh seseorang. Hal ini membuat penderita lebih rentan terhadap infeksi, kanker, dan penyakit lainnya. Pada beberapa orang, infeksi HIV pada akhirnya akan mengarah ke AIDS. Risiko ini dapat dikurangi dengan pengobatan medis secara tepat waktu.

HIV adalah kondisi kronis, seumur hidup. Hal ini sebenarnya masih dapat ditangani, tetapi belum bisa disembuhkan. Dengan penanganan yang tepat, penderita HIV mampu bertahan hidup lebih lama.

Pencegahan
HIV dapat dicegah dengan menghindari paparan cairan berpotensi menular. Termasuk darah, semen, dan air susu ibu. Anda juga dapat mengurangi risiko HIV dengan membuat pilihan hidup lebih sehat, antara lain:
- Selalu mempraktekkan s3ks aman, kecuali berada dalam hubungan monogomous, dimana Anda dan pasangan Anda telah diuji HIV negatif selama paling sedikit enam bulan.
- Hindari obat intravena. Jika tidak dapat berhenti, Anda dapat mengurangi risiko dengan tidak pernah berbagi atau menggunakan kembali jarum.
- Praktek kewaspadaan universal. Selalu menganggap bahwa darah mungkin berpotensi menularkan virus. Lindungi diri dengan menggunakan sarung tangan karet.
- Tes HIV. Jika ternyata hasil tes negatif, Anda dapat mengambil langkah-langkah pencegahan seperti telah disebutkan. Namun, jika hasil tes HIV positif, hal tersebut dapat membantu Anda menemukan penanganan tepat serta mengurangi resiko penyebaran infeksi kepada orang lain. CDC merekomendasikan pengujian tahunan untuk orang yang aktif secara s3ksu@l dengan banyak pasangan, orang yang menggunakan obat intravena, dan mereka yang telah melakukan hubungan s3ks dengan orang yang terinfeksi HIV. CDC merekomendasikan untuk diuji ulang jika Anda atau pasangan Anda memiliki satu atau lebih pasangan s3ksu@l sejak tes HIV terakhir.

Jika telah didiagnosis memiliki HIV, orang tersebut tidak akan dapat menyumbangkan darah, sperma, atau organ. Hal ini untuk membantu mencegah penyebaran HIV kepada orang lain. Meskipun demikian, penyakit HIV/AIDS tidak dapat menular melalui kontak biasa.

http://www.healthline.com/health/acute-hiv-infection

Selasa, 11 Maret 2014

Etiologi HIV AIDS

Etiologi HIV AIDS - HIV merupakan jenis virus yang dapat menyebabkan defisiensi kekebalan pada manusia. Seperti halnya virus-virus lain, HIV juga hanya dapat hidup dengan menempel pada sel inang. Infeksi virus HIV akan berlanjut pada serangan penyakit AIDS. Penyakit AIDS merupakan penyakit yang disebabkan sindrom penurunan sistem kekebalan tubuh. Menurunnya sistem imun atau kekebalan tubuh akan membuat penderita lebih mudah terinfeksi penyakit lain, dikenal sebagai infeksi oportunistis. Infeksi oportunistik akan semakin parah, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Berdasarkan gejala yang ditunjukkan, terdapat dua kategori penderita AIDS, yaitu penderita AIDS positif dan negatif. Penderita AIDS positifi adalah orang yang terinfeksi virus HIV dan sudah menunjukkan gejala infeksi oportunistik. Sedangkan penderita AIDS negatif adalah orang yang terinfeksi virus HIV tetapi belum menunjukkan gejala infeksi oportunistik.

AIDS merupakan penyakit yang sangat ditakuti karena belum ada yang mampu disembuhkan. Dengan kata lain, penyakit ini memiliki tingkat kematian hingga 100%.

Bagaimana virus HIV menyerang?

HIV adalah sejenis retrovirus RNA dan merupakan partikel inert, dimana ia tidak dapat melakukan aktivitas sama sekali kecuali berada dalam sel target. Virus HIV memiliki sel target utama, yaitu sel Lymfosit T, karena sel ini memiliki CD-4, yaitu sejenis reseptor virus HIV. Setelah berada dalam sel target, HIV akan berkembang dang bersifat infectious, dimana ia dapat ditularkan dan dapat aktif setiap saat.

Virus HIV dapat hidup dan berkembang dalam cairan tubuh, seperti air mata, ludah, semen, maupun darah. Selain dalan cairan tubuh, virus ini juga bisa ditemukan dalam sel-sel tubuh, antara lain sel glia jaringan otak, monosit, dan makrotag.

Bagian luar virus tersusun atas lemak, yang bersifat tidak tahan terhadap panas maupun bahan kimia. Sehingga virus ini mudah dimatikan dengan berbagai bahan kimia, seperti disinfektan, dan peka terhadap pengaruh lingkungan, terutama panas, misalnya sinar matahari yang menyengat. Meskipun sensitif terhadap sinar matahari, namun virus HIV relatif tahan terhadap radiasi ultraviolet. Virus HIV memiliki bagian inti yang dinamakan core, dan bagian selubung yang dinamanakan envelop.

Klik Gambar Di Bawah Ini Dan Registrasi Untuk Berkonsultasi Dengan Dokter



Masa inkubasi

Masa inkubasi virus HIV antara 5-12 tahun, tergantung pada sistem imun seseorang. Masa inkubasi merupakan periode waktu yang dibutuhkan untuk menimbulkan gejala semenjak paparan atau infeksi pertama. Selama masa inkubasi ini, penderita tidak menunjukkan gejala apapun, sehingga tidak menyadari adanya serangan virus.

Pada fase ini, sistem kekebalan tubuh masih mampu melawan virus, sehingga gejala yang ditimbulkan tidak begitu terlihat. Namun, penderita HIV dalam masa inkubasi sudah berpotensi menjadi penular virus kepada orang lain. Penularan dapat terjadi dengan berbagai cara, tergantung pada pola transmisi virus. Tidak adanya gejala ini justru sangat membahayakan, karena penderita merasa sehat dan tidak menyadari bahwa dirinya mengidap infeksi. Hal ini tentu akan memudahkan penularan, karena tidak adanya antisipasi.

Senin, 10 Maret 2014

Penyakit HIV AIDS dan Malnutrisi

Tidak jarang orang yang menderita penyakit HIV/AIDS mengalami malnutrisi. Untuk menopang hidupnya, manusia tidak hanya membutuhkan cukup makanan, tetapi juga berbagai variasi makanan. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kecukupan gizi untuk menopang kesehatannya. Orang yang hanya mengkonsumsi satu jenis makanan, maka kondisi kesehatannya akan memburuk. Memburuknya kesehatan seseorang akibat kurangnya variasi makanan, maka dikatakan mengalami malnutrisi.

Malnutrisi dapat menyebabkan penyakit atau penurunan berat badan. Salah satu cara untuk menghindari malnutrisi adalah dengan kombinasi makanan maupun kecukupan air. Hal ini terutama berlaku bagi penderita HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS cenderung mengalami kekurangan gizi dan terserang penyakit terus-menerus. Apalagi jika disertai dengan diare, tentu akan menghambat tubuh dalam menyerap nutrisi. Malnutrisi juga bisa terjadi pada penderita HIV/AIDS akibat menurunnya nafsu maka maupun infeksi pada mulut yang membuat aktifitas makan terganggu. Penurunan berat badan sangat umum terjadi pada penderita AIDS di daerah Afrika, sehingga penyakit ini dikenal dengan penyakit kurus (slim disease).

Diet seimbang dengan makanan yang berbeda membantu penderita penyakit HIV/AIDS tetap kuat dan sehat. Diet yang seimbang adalah makanan yang terdiri dari berbagai kelompok nutrisi dasar yang berbeda. Nutrisi dasar terdiri dari protein, karbohidrat, lemak dan minyak, serta vitamin dan mineral.

Kelompok-kelompok nutrisi dasar

Protein membantu tubuh agar tetap tumbuh serta memperbaiki kerusakan sel-sel tubuh. Makanan yang memiliki jumlah protein tinggi antara lain ikan, makanan laut, daging (misalnya, daging sapi, domba, kambing, dll), unggas (misalnya, ayam, kalkun, itik), telur, susu, keju, kacang-kacangan, beras, kacang polong, sereal, tahu, serta produk kedelai lainnya.

Karbohidrat memberikan energi bagi tubuh. Pati dan gula merupakan jenis karbohidrat. Makanan sumber pati antara lain jagung, beras, gandum, oat, millet, mie, kentang, labu, singkong, pisang, talas, dll. Kandungan pati pada kentang dan gandum merupakan sumber energi yang stabil bagi tubuh. Sedangkan gula banyak ditemukan dalam tebu, bit, gula halus, permen, madu, atau buah. Namun, makan terlalu banyak gula juga dapat menyebabkan kerusakan gigi maupun penyakit gusi.

Lemak dan minyak membantu menyimpan energi tubuh. Seperti halnya pada protein atau karbohidrat, lemak dan minyak juga menyimpan energi lebih banyak. Ini berarti bahwa lemak dan minyak membantu orang menambah serta mempertahankan berat badan. Masalah terhadap lemak bagi kebanyakan orang adalah menyebabkan penyakit jantung maupun kelebihan berat badan (obesitas). Namun, hal ini tidak menjadi masalah bagi penderita penyakit AIDS, karena mereka mengalami penurunan berat badan serta mencoba untuk menambah berat badan. Makanan dengan kandungan lemak tinggi diantaranya adalah minyak, lemak babi, mentega, margarin, kacang, wijen, kedelai, kelapa, alpukat, krim, susu, dan daging merah seperti daging sapi, babi, maupun daging domba.

Vitamin dan mineral diperlukan dalam jumlah kecil untuk kesehatan seseorang. Senyawa ini banyak terkandung dalam makanan yang berbeda, terutama sayuran dan buah-buahan. Inilah salah satu alasan diet bervariasi penting bagi kesehatan seseorang untuk memberikan kecukupan vitamin dan mineral.

Jika penderita HIV/AIDS mengalami kesulitan makan

Orang dengan penyakit aids mungkin mengalami mual dan muntah. Teh atau obat-obatan dapat membantu untuk mengatasi gejala ini. Apabila mengalami infeksi pada mulut, carilah makanan lunak dan tidak pedas untuk mengurangi rasa sakit. Jika kesulitan menelan, dapat diatasi dengan menggerakkan kepala ke depan saat menelan, gunakan makanan lembut agar lebih mudah menelan. Untuk menghindari tersedak, saat minum harus dilakukan dengan hati-hati, bisa juga menggunakan sedotan agar lebih mudah.

Wanita dan anak-anak perlu mendapatkan gizi khusus. Hal ini disebabkan wanita kehilangan banyak nutrisi melalui menstruasi, kehamilan, atau saat menyusui. Sedangkan anak-anak membutuhkan makanan tambahan untuk pertumbuhan. Wanita dan anak-anak yang terinfeksi virus HIV membutuhkan lebih banyak makanan agar tetap sehat, karena penyakit ini mampu mengakibatkan resiko lebih tinggi pada tubuh mereka.

Sumber:The symptoms of HIV infection

Gejala HIV AIDS

Gejala HIV AIDS terjadi dalam beberapa tahap. Infeksi virus HIV merusak bagian tubuh seseorang melalui dua cara, yaitu langsung menyerang organ tubuh penderita, dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga memungkinkan terjadinya serangan penyakit lain.

Virus HIV dapat menginfeksi organ tubuh secara langsung, yaitu dengan menyerang sel-sel di otak, sistem saraf, usus, maupun darah. Infeksi pada sel-sel otak dapat mempengaruhi cara berpikir seseorang (kerusakan otak). Infeksi sistem saraf menyebabkan nyeri atau mati rasa di lengan dan kaki (kerusakan saraf). Sedangkan infeksi pada usus dapat menyebabkan diare, serta infeksi sel-sel darah dapat mengakibatkan seseorang menderita anemia dan perdarahan.

Ada beberapa tahapan yang berbeda terhadap infeksi HIV, dimulai dengan waktu ketika seseorang pertama kali terinfeksi, berkembang melalui periode dimana gejala belum tampak hingga mencapai saat gejala pertama muncul, dan berakhir dengan penyakit HIV lanjut (AIDS).

Tahapan Gejala HIV AIDS

1. Beberapa minggu pertama setelah infeksi.
2. Masa tenang, masa inkubasi virus HIV.
3. Penyakit HIV awal.
4. Penyakit HIV lanjut (AIDS).

Klik Gambar Di Bawah Ini Dan Registrasi Untuk Berkonsultasi Dengan Dokter



1. Gejala pada minggu-minggu pertama infeksi HIV

Tahap pertama infeksi HIV terjadi setelah seseorang terinfeksi dengan virus. Biasanya orang tidak menyadari ketika mereka terinfeksi virus HIV. Penderita tidak akan menyadari adanya serangan HIV hingga diuji di rumah sakit pada tahap selanjutnya. Gejala tahap awal ini terjadi selama beberapa minggu (1-4 minggu) setelah terjadinya infeksi. Gejala tersebut mirip dengan gejala flu, yaitu sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, perut, diare, serta tubuh merasa lelah. Setelah seminggu, gejala akan berkembang dengan muncul ruam di bagian dada, wajah, atau leher. Pada beberapa orang, kemungkinan akan berkeringat malam hari, nyeri otot dan persendian, pembengkakan kelenjar getah bening, mual, dan muntah. Gajala ini biasanya berlangsung kurang dari satu minggu.

Meskipun jarang terjadi, tahap pertama infeksi HIV bisa lebih serius, mengakibatkan gangguan dan kerusakan sistem saraf seseorang. Orang yang terinfeksi dapat mengalami pembengkakan otak. Hal ini dapat menyebabkan sakit kepala, leher kaku, demam, kebingungan, masalah sistem saraf, dan koma. Pada beberapa orang yang terinfeksi HIV terjadi masalah dengan saraf-saraf tangan, kaki, atau wajah, sehingga menimbulkan berbagai gejala, seperti rasa nyeri, kesemutan, atau kesulitan bergerak. Kelenjar getah bening kadang-kadang bisa membengkak selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Karena semua gejala-gejala di atas juga terlihat pada beberapa penyakit selain HIV, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa seseorang telah terinfeksi HIV hanya karena mengalami satu atau lebih dari gejala-gejala tersebut. Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami infeksi virus HIV atau tidak, harus dilakukan uji virus. Namun, virus HIV belum dapat terdeteksi pada minggu-minggu pertama setelah infeksi. Tes HIV dilakukan dengan mengambil antibodi, sementara tubuh yang baru saja terinfeksi virus HIV belum membuat antibodi, sehingga deteksi setelah gejala awal muncul pada minggu-minggu pertama belum bisa dilakukan. Tubuh akan membentuk antibodi dalam waktu kurang lebih tiga minggu setelah terinfeksi.

2. Tahap tenang infeksi HIV

Penderita akan sembuh dari gejala pertama infeksi HIV dalam beberapa hari atau minggu. Selama beberapa tahun setelah itu mereka akan merasa baik, terlihat sehat, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kendala. Sistem kekebalan tubuh mereka mampu melawan virus.

Tahap ini disebut "periode inkubasi" atau tahap tenang infeksi HIV. Periode ini merupakan waktu antara infeksi pertama HIV dan titik di mana seseorang akan mengalami kondisi lebih kritis. Untuk orang dewasa, tahap ini dapat berlangsung selama sepuluh tahun. Pada tahap ini, kebanyakan penderita tidak mengalami gejala apapun, dan banyak dari mereka bahkan tidak menyadari kalau mereka telah terinfeksi virus HIV.

3. Tahap awal penyakit HIV AIDS

Setelah masa inkubasi, orang yang terinfeksi virus HIV akan mengalami kondisi lebih parah. Virus HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga infeksi dari penyakit lain mudah menyerang. Infeksi ini disebut sebagai infeksi oportunistik yang dapat mengakibatkan AIDS. Infeksi oportunistik ditandai dengan adanya gejala penyakit, seperti flu, diare, atau penyakit lain yang berkepanjangan dan sulit sembuh. Tahap ini dapat berlangsung selama satu bulan atau lebih, dipengaruhi oleh kondisi kekebalan tubuh seseorang.

Bersamaan dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh (imun), orang dengan HIV sering mengalami pembengkakan kelenjar getah bening dan penurunan berat badan. Hal ini merupakan gejala umum penyakit HIV/AIDS.

4. AIDS tahap lanjut

Tahap ini disebut sebagai tahap aids lanjut, ditandai dengan gejala infeksi oportunistik yang semakin meningkat dan kompleks. Meningkatnya gejala infeksi oportunistik juga diikuti dengan semakin melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Sumber:The symptoms of HIV infection
Peringatan! Semua artikel pada blog ini tidak ditujukan untuk menganjurkan, merekomendasikan, atau mengajak Anda mengikuti apa yang tertera pada artikel. Artikel ini murni dibuat sebagai bahan kajian dan pengetahuan saja. Terima kasih atas pengertiannya.